# Dari Oriflame hingga Mimpi Membangun Bisnis Global: Perjalanan Seorang Anak Petani Menuju Dunia yang Lebih Bermanfaat


Berangkat dari pengamatan dan pengalaman bisnis online Oriflame di Swedia, bisnis owner Siska cich, wasilah cosmetic, hingga partisipasi merambah ke PT, bisnis global yang di bangun oleh salah satu anggota dewan semoga dengan pengalaman itu saya dapat mengambil hikmah baiknya dan bisa menular ke saya hal hal positif-nya.


Setiap perjalanan besar selalu berawal dari langkah yang sederhana. Tidak ada orang yang langsung menjadi pemimpin, pengusaha besar, ataupun pencipta inovasi dunia tanpa terlebih dahulu melewati proses belajar yang panjang. Begitu pula perjalanan hidup saya. Saya bukan berasal dari keluarga berada, bukan pula anak seorang pengusaha besar. Saya lahir dan tumbuh di tengah keluarga petani yang mengajarkan arti kerja keras, kejujuran, kesederhanaan, serta pentingnya menghargai setiap proses kehidupan.


Sejak kecil saya percaya bahwa pendidikan dan pengalaman adalah dua bekal yang tidak akan pernah habis. Harta dapat hilang, jabatan dapat berganti, tetapi ilmu akan selalu menemani seseorang ke mana pun ia melangkah. Keyakinan inilah yang kemudian mengantarkan saya untuk terus mencoba berbagai kesempatan, meskipun terkadang saya belum sepenuhnya memahami ke mana arah perjalanan tersebut akan membawa saya.


Salah satu titik awal yang mengubah cara pandang saya terhadap dunia bisnis terjadi ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada masa itu saya belum mengenal istilah bisnis global, pemasaran digital, ataupun kewirausahaan modern. Saya hanyalah seorang pelajar yang memiliki rasa ingin tahu sangat besar terhadap hal-hal baru.


Suatu hari, ketika saya sedang berlibur di rumah tante sambil menikmati kebersamaan keluarga dan membakar jagung pada malam hari, saya diperkenalkan dengan sebuah perusahaan yang berasal dari Swedia, yaitu Oriflame. Saat itu saya baru mengetahui bahwa perusahaan tersebut didirikan oleh dua bersaudara, Jonas af Jochnick dan Robert af Jochnick bersama rekan mereka, Bengt Hellsten. Saya belum memahami bagaimana perusahaan internasional bekerja, tetapi saya merasa sangat penasaran.


Rasa penasaran itulah yang kemudian membawa saya mengambil keputusan sederhana, yaitu mendaftarkan diri sebagai anggota. Menariknya, proses pendaftaran saat itu tidak dipungut biaya sehingga saya merasa tidak memiliki alasan untuk tidak mencoba. Saya berpikir bahwa mencoba sesuatu yang baru jauh lebih baik daripada menyesal karena tidak pernah berani memulai.


Keputusan kecil tersebut ternyata menjadi salah satu pengalaman yang membuka wawasan saya mengenai dunia bisnis digital. Di sana saya belajar bahwa bisnis bukan hanya tentang menjual produk. Bisnis adalah tentang membangun hubungan, menciptakan kepercayaan, memberikan pelayanan terbaik, dan terus belajar memahami kebutuhan orang lain.


Melalui Oriflame saya mulai mengenal orang-orang dari berbagai daerah, bahkan dari berbagai negara. Saya menyadari bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada yang saya bayangkan selama ini. Teknologi memungkinkan seseorang yang tinggal di daerah untuk berkomunikasi dengan siapa saja tanpa dibatasi oleh jarak.


Pengalaman itu mengubah pola pikir saya. Saya mulai memahami bahwa batas terbesar seseorang bukanlah tempat tinggalnya, melainkan keberaniannya untuk belajar.


Perjalanan saya tidak berhenti sampai di sana. Seiring berjalannya waktu saya mulai mengenal berbagai perusahaan lain. Ada beberapa perusahaan atau PT yang saya ikuti proses pengenalannya. Walaupun saya belum sempat bergabung secara penuh, saya tetap membantu mereka mencari anggota baru ketika mereka membutuhkan bantuan.


Banyak orang mungkin bertanya mengapa saya bersedia membantu bisnis orang lain, padahal belum tentu saya memperoleh keuntungan yang besar. Jawaban saya sederhana. Saya dibesarkan dengan nilai bahwa membantu orang lain tidak pernah menjadi kerugian.


Saya selalu merasa kurang nyaman apabila seseorang meminta pertolongan kepada saya sementara saya mampu membantu tetapi memilih diam. Bagi saya, membantu adalah bentuk rasa syukur atas kesempatan yang Allah SWT berikan.


Ternyata, tanpa saya sadari, kebiasaan membantu tersebut justru membuka banyak pintu rezeki yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Semakin banyak saya membantu orang lain berkembang, semakin luas pula jaringan pertemanan yang saya miliki. Dari sanalah saya belajar bahwa dunia bisnis tidak hanya dibangun oleh modal uang, tetapi juga oleh modal kepercayaan.


Saya mulai memahami bahwa lingkungan pergaulan sangat memengaruhi masa depan seseorang. Berteman dengan orang-orang yang memiliki semangat belajar, semangat bekerja, dan semangat berbagi akan membentuk karakter yang sama dalam diri kita.


Sebaliknya, apabila seseorang berada di lingkungan yang penuh pesimisme, maka tanpa disadari semangatnya pun akan ikut menurun. Oleh sebab itu saya selalu berusaha berada di lingkungan yang dipenuhi orang-orang yang memiliki mimpi besar.


Selain aktif mengenal dunia bisnis, saya juga aktif mengikuti berbagai organisasi. Saya percaya bahwa organisasi adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan banyak hal yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.


Melalui organisasi saya belajar berbicara di depan umum, memimpin rapat, menyusun program kerja, mendengarkan pendapat orang lain, menyelesaikan konflik, hingga belajar bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.


Saya pernah mengikuti berbagai pelatihan, termasuk pelatihan pembawa materi yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari pengalaman tersebut saya memahami bahwa kemampuan berbicara bukan sekadar kemampuan menyampaikan kata-kata, tetapi kemampuan menyampaikan gagasan yang mampu menggerakkan orang lain menuju perubahan.


Semua pengalaman itu saling melengkapi. Dunia bisnis mengajarkan saya mengenai pelayanan dan kepercayaan. Dunia organisasi mengajarkan saya kepemimpinan dan kerja sama. Dunia pendidikan mengajarkan saya berpikir ilmiah. Ketiganya kemudian membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan.


Semakin banyak pengalaman yang saya peroleh, semakin besar pula impian yang tumbuh di dalam hati saya.


Saya mulai membayangkan suatu hari nanti bukan lagi sekadar menjadi penjual produk milik orang lain. Saya ingin menjadi seseorang yang mampu menciptakan produk berdasarkan ide saya sendiri.


Saya ingin menjadi seorang pemilik usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan solusi bagi masyarakat. Saya percaya bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki potensi alam yang luar biasa. Potensi tersebut tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah yang dijual dengan harga murah. Potensi tersebut harus diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.


Sebagai lulusan bidang agribisnis, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengembangkan kekayaan alam Indonesia. Saya ingin membuktikan bahwa hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan Indonesia mampu menjadi produk unggulan dunia apabila dikelola dengan inovasi, ilmu pengetahuan, dan strategi bisnis yang tepat.


Saya membayangkan suatu hari nanti lahir berbagai produk pangan, kosmetik alami, produk kesehatan, maupun produk ramah lingkungan yang berasal dari kekayaan alam Indonesia dan dikenal di berbagai negara.


Mimpi tersebut mungkin terlihat besar. Namun saya percaya bahwa setiap perusahaan besar yang ada saat ini pun dahulu hanya dimulai dari sebuah mimpi kecil yang diwujudkan dengan kerja keras dan ketekunan.


Perjalanan saya sebagai penjual pulsa, token listrik, layanan pembayaran digital, dan berbagai produk lainnya semakin memperkuat keyakinan tersebut. Dari usaha kecil itulah saya belajar menghitung keuntungan, memahami kebutuhan pelanggan, menjaga kepercayaan konsumen, serta mengelola keuangan secara bertanggung jawab.


Saya percaya bahwa tidak ada usaha yang terlalu kecil apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh. Justru dari usaha kecil itulah seseorang belajar menjadi besar.


Keuntungan yang saya peroleh bukan hanya berupa uang. Lebih dari itu, saya memperoleh pengalaman, kepercayaan diri, serta keberanian untuk terus bermimpi lebih tinggi.


Saya percaya bahwa suatu hari nanti saya mampu membangun perusahaan sendiri. Perusahaan yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat luas.


Saya bermimpi mendirikan lembaga pendidikan, membangun perpustakaan yang menyediakan buku-buku dari berbagai bahasa dunia, membantu pesantren, sekolah, panti asuhan, serta menghadirkan beasiswa bagi generasi muda yang memiliki semangat belajar tetapi terkendala oleh keterbatasan ekonomi.


Bagi saya, kesuksesan sejati bukanlah ketika seseorang memiliki kekayaan yang melimpah. Kesuksesan sejati adalah ketika keberadaan kita mampu membuka jalan bagi orang lain untuk meraih masa depan yang lebih baik.


Saya ingin suatu hari nanti anak-anak dari desa-desa terpencil memiliki kesempatan membaca buku-buku terbaik dunia tanpa harus pergi ke kota besar. Saya ingin mereka mengenal berbagai bahasa internasional sehingga mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.


Saya yakin bahwa pendidikan adalah investasi terbesar yang dapat mengubah masa depan sebuah bangsa. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan akhlak, integritas, dan kepedulian sosial, maka akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi banyak orang.


Itulah alasan mengapa setiap langkah kecil yang saya tempuh hari ini selalu saya niatkan sebagai bagian dari perjalanan menuju cita-cita besar tersebut. Saya percaya bahwa Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang baik. Selama kita terus belajar, bekerja keras, menjaga kejujuran, dan membantu sesama, maka jalan menuju keberhasilan akan selalu terbuka, meskipun terkadang harus ditempuh melalui proses yang panjang dan penuh tantangan.


Fotonya pada saat kerja di sinar 88 daerah balikpapan.☺️🤗

Komentar